"Sustainable Coffee Farming Lombok: Riset Internasional University of Copenhagen Ungkap Potensi dan Tantangan Petani Kopi Skala Kecil"

Gambar: Landscape Desa Sapit–Lombok Timur.

Latar Belakang dan Awal Mula Kerja Sama

 Lombok bukan hanya tentang pantai dan Gunung Rinjani yang megah. Di balik hijaunya perbukitan, ada ribuan petani kopi yang setiap harinya merawat kebun dengan penuh kecintaan — dan kini, dunia mulai melirik mereka.

Baru-baru ini, Micofam Lombok Coffee menjadi mitra pendampingan bagi sekelompok mahasiswi dari University of Copenhagen (UCPH), Denmark, dalam sebuah proyek riset lapangan bertajuk "Sustainable Smallholder Coffee Farming and Production in Lombok, Indonesia". Penelitian ini melibatkan dua program studi sekaligus — Agricultural Economics dan Food Science and Technology — yang secara bersama-sama mengkaji isu lingkungan dan ekonomi dalam produksi kopi skala kecil di Lombok.

Micofam Lombok Coffee dipercaya menjadi mitra lokal dalam perjalanan penelitian ini. Kepercayaan itu bukan tanpa alasan — sebagai pelaku usaha yang telah bertahun-tahun bersentuhan langsung dengan ekosistem kopi Lombok, Micofam memiliki jaringan petani, pemahaman lapangan, dan kepedulian mendalam terhadap masa depan kopi Lombok yang berkelanjutan.

Mengapa Lombok? Mengapa Petani Kecil?

Pertanyaan itu sederhana, namun jawabannya dalam. Lombok menyimpan potensi kopi yang luar biasa — tanah vulkanik, ketinggian ideal, dan iklim tropis yang sempurna. Namun potensi itu kerap terbentur kenyataan: harga yang tidak stabil, akses pasar yang terbatas, dan praktik pengolahan yang belum optimal. Inilah yang membuat tim peneliti dari Denmark memilih Lombok sebagai lokasi studi — mereka tidak datang untuk mengamati dari jauh, tetapi untuk belajar langsung dari bumi dan manusianya.

Empat Kelompok Tani, Satu Misi

Perjalanan riset membawa tim peneliti menemui empat kelompok tani di dampingi oleh tim Micofam yang tersebar di berbagai daerah Lombok:

1. KTH Dongo Baru, Sapit — Di ketinggian perbukitan Sapit, para petani menyambut tim dengan tangan terbuka. Mereka berbagi cerita tentang musim panen yang penuh ketidakpastian, namun juga tentang mimpi agar kopi Sapit suatu hari dikenal lebih luas oleh dunia. Tim peneliti memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan penelitian secara sederhana dan lugas — bahwa mereka datang bukan untuk menggurui, melainkan untuk belajar langsung dari pengalaman para petani.
    
    Penjelasan ini disambut positif. Para anggota KTH Dongo Baru mulai berbicara dengan lebih terbuka tentang keseharian mereka sebagai petani kopi — tentang musim panen yang kadang menggembirakan, kadang mengecewakan; tentang harga yang naik turun tanpa bisa diprediksi; dan tentang harapan mereka agar kopi Sapit suatu hari bisa dikenal lebih luas.


Gambar: Pertemuan Mahasiswi Penelitian dengan kelompok KTH Dongo Baru, di Sapit-Lombok Timur.

 

2.Koperasi Bumi Tani Lestari, Sajang — Pertemuan di sini berlangsung dengan dinamika yang lebih terstruktur. Pengurus koperasi memaparkan sekilas profil organisasi mereka — jumlah anggota, luas lahan kolektif yang dikelola, serta sistem bagi hasil dan pemasaran yang selama ini berjalan.

Bagi mahasiswi dari program Agricultural Economics, paparan ini sangat berharga — memberikan gambaran nyata tentang bagaimana model ekonomi kolektif diterapkan dalam konteks pertanian kopi skala kecil.

Namun yang paling berkesan adalah saat para anggota koperasi berbicara tentang tantangan yang mereka hadapi bersama. Akses terhadap pasar yang lebih baik, kebutuhan akan alat pengolahan yang lebih modern, serta keinginan untuk mendapatkan harga yang lebih adil — semua itu disampaikan dengan penuh semangat dan harapan. 

Di sinilah semangat gotong royong benar-benar hidup. Koperasi ini membuktikan bahwa keberlanjutan bukan hanya soal teknik bertani, tetapi juga soal kekuatan organisasi dan solidaritas antar petani dalam menghadapi pasar.

Gambar:
Gambar: Pertemuan Mahasiswi Penelitian dengan Koperasi Bumi Tani Lestari, di Sajang–Lombok Timur

3.Kelompok Coffee Lereng Rinjani, Sembalun — Dengan latar belakang Rinjani yang menjulang, petani di Sembalun bicara tentang terroir kopi mereka yang unik — karakter rasa yang lahir dari tanah vulkanik dan ketinggian yang tidak bisa direplikasi di tempat lain. Mereka juga menyuarakan keprihatinan nyata: perubahan pola curah hujan akibat perubahan iklim yang mulai mengancam kebun-kebun mereka.

Gambar: Pertemuan Mahasiswi Penelitian dengan Kelompok Coffee Lereng Rinjani, di Sembalun–Lombok Timur.

4. Kelompok Rau Coffee, Beririjarak — Pertemuan paling kekeluargaan dalam rangkaian kunjungan ini. Para petani Beririjarak ternyata telah lama mempraktikkan prinsip-prinsip pertanian berkelanjutan secara turun-temurun — jauh sebelum istilah sustainability menjadi tren global. Sebuah kearifan lokal yang kini sedang diangkat ke panggung akademis internasional.

Gambar: Pertemuan Mahasiswi Penelitian dengan Kelompok Rau Coffee, di Beririjarak–Lombok Timur.

Micofam berperan sebagai jembatan dalam pertemuan ini — menerjemahkan pertanyaan akademis ke dalam bahasa lapangan, dan memastikan petani merasa nyaman untuk berbagi pengalaman mereka secara jujur. Dari kunjungan ini, tim peneliti membawa pulang gambaran awal yang kaya tentang kondisi pertanian kopi di berbagai kawasan, sekaligus benih-benih kepercayaan yang akan tumbuh lebih kuat dalam pertemuan-pertemuan berikutnya.

Apa yang Ditemukan?

Penelitian ini menggunakan pendekatan menyeluruh — survei, wawancara mendalam, observasi lapangan, hingga Focus Group Discussion (FGD) bersama kelompok tani. Beberapa temuan penting yang muncul:

  • Potensi kopi spesialti Lombok jauh lebih besar dari yang selama ini diperhitungkan, terutama untuk kopi dari kawasan Sembalun dan Sapit.
  • Ketimpangan rantai nilai masih menjadi tantangan utama — petani di tingkat paling dasar sering kali menerima bagian paling kecil dari harga akhir yang dibayar konsumen.
  • Praktik berkelanjutan lokal sudah ada dan berjalan, namun belum terdokumentasi dan belum mendapatkan insentif pasar yang sepadan.

  • Sertifikasi organik diminati petani, namun terhambat biaya dan ketidakpastian manfaat ekonomisnya.

Lebih dari Sekadar Data

Ketika para mahasiswi akhirnya berpamitan meninggalkan Lombok, mereka membawa lebih dari sekadar laporan penelitian. Mereka membawa pemahaman mendalam tentang bagaimana pertanian kopi di dunia berkembang — dengan segala tantangan dan kekuatannya.

Dan Lombok mendapatkan sesuatu yang tidak kalah berharga: sebuah kajian ilmiah internasional yang bisa menjadi cermin sekaligus kompas — untuk petani, untuk pelaku industri, dan untuk pengambil kebijakan.

Bagi Micofam Lombok Coffee, ini bukan sekadar kegiatan pendampingan biasa. Ini adalah bagian dari komitmen yang lebih besar: bahwa kopi Lombok harus terus tumbuh dengan cara yang benar — berkelanjutan secara lingkungan, berkeadilan secara ekonomi, dan bermartabat bagi setiap petani yang merawatnya dari biji hingga cangkir.

Gambar: Kunjungan Mahasiswi Penelitian ke Kebun kopi yang di dampingi oleh Ewa Satria Pendiri Micofam Lombok Coffee

Tertarik mengenal lebih jauh kopi-kopi dari petani mitra Micofam Lombok Coffee? Ikuti perjalanan kami di sini.






Comments

Popular posts from this blog

Micofam Lombok Coffee: Lombok Coffee Farm as a Unique Tourist Attraction and Educational Coffee Tour

Sustainable Coffee Farm Lombok: Where Coffee and Eco-Tourism Converge

Menyatu dengan Alam: Keajaiban di Balik MiCoFam Lombok Coffee